Satu Biji Sesawi (Perumpamaan ke-37) Print
Written by Peter Yoksan   
Friday, 16 May 2014 23:57

Ringkasan Khotbah 11 Mei Tahun TUHAN 2013

 


40 Perumpamaan Yesus dalam 7 Kategori:

VII. Allah Mengajarkan Tentang

Gereja-Nya & Kerjaan-Nya:

Satu Biji Sesawi (Perumpamaan ke-37) -

Markus 13:31-32

Khotbah Oleh: Gembala Sidang Peter Yoksan


Yesus selalu menggunakan hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari orang Israel untuk mengajarkan mereka melalui perumpamaan. Salah satu perumpamaan itu adalah tentang ’’Biji Sesawi” yang menjadi menjadi tema khotbah ini. Tema khotbah ini berhubungan dengan’’Pertanian.” Allah memberikan bangsa Israel tanah yang subur, juga gunung, bukit, lembah, danau, laut dan sungai, yang dari semuanya itu dapat mereka usahakan untuk bertani, berternak maupun menjadi nelayan. Di dalam Perjanjian Lama, berkali-kali Allah berfirman bahwa Ia akan memberikan tanah yang berkelimpahan susu dan madu kepada bangsa Israel ( Kel 3:8,17;13:5;33:3. Im 20:24. Bil 13:27; 14:8; 16:13-14. Ul 6:3; 11:9; 26:9,15; 27:3; 31:20. Yos 5:6. Yer 11:5; 32:22. Yeh 20:6,15). Karena sangat subur, maka segala sesuatu yang mereka tanam akan tumbuh dengan baik, salah satunya adalah sesawi. Semua orang di Israel tahu jenis tanaman ini, maka dari itu Yesus menggunakan perumpamaan tentang biji sesawi agar mereka dapat memahami maksud dari pengajaran-Nya.

 


Untuk memudahkan kita di dalam memaknai Matius 13:31-32 ini, maka ayat-ayat ini dapat dibagi menjadi 10 elemen: 1) Kerajaan Allah; 2) Satu biji sesawi (Mat 13:31 dalam bahasa asli); 3) Seorang pria; 4) Ia menggambil 1 biji untuk ditanam; 5) Ditanam di tanah; 6) Biji terkecil dari segala jenis benih; 7) Terus bertumbuh setelah ditanam; 8) Lebih besar daripada sayuran lain; 9) Bahkan menjadi pohon setinggi 3-4 meter; 10) Burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya. Biji sesawi adalah benih yang terkecil diantara benih-benih yang ditanam di kebun sayur Israel saat itu. Tetapi apabila ia telah tumbuh ia akan menjadi paling besar di antara tanaman/sayuran lainnya. Saking kecilnya ukuran benih ini, orang Ibrani mengumpamakan sesuatu yang kecil dengan biji sesawi. Hal ini juga dilakukan Yesus di Mat 17:20.

 


Di Mat 13:31-32 ini Yesus mengajarkan bahwa hal kerajaan surga itu seumpama satu biji sesawi yang kecil, yang diremehkan pada awalnya, bahkan dipandang rendah, tetapi satu biji ini dapat tumbuh menjadi pohon yang besar. Sama seperti Yesus yang sebenarnya adalah raja atas segala raja, telah merendahkan diri menjadi manusia yang paling hina dengan lahir di palungan (Luk 2:12), besar di desa, dibesarkan oleh tukang kayu (Mat 13:55), dan hanya melayani selama 3,5 tahun saja (Yoh 2,5,6,12). Begitu pula dengan murid-murid-Nya yang kebanyakan berasal dari Galilea (udik), tidak memiliki pendidikan tinggi, bukan orang kaya, bukan berasal dari golongan pemimpin, merela penakut, lemah, lamban mengerti/percaya, memiliki iman yang kecil, pelupa, dan hanya berjumlah sedikit yaitu 12, 70, 120 (Kis 1:15), dan 500 orang (I Kor 15) sehingga banyak orang saat itu yang meragukan Yesus. Salah satunya murid-Nya Natanael berkata, ”mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?’ (Yoh 1:46). Itulah latar belakang Yesus dan para murid-Nya yang rendah/kecil seperti biji sesawi sehingga ada yang meragukan kuasa yang Yesus miliki dan firman yang Ia sampaikan.

Biji sesawi yang kecil juga melambangkan Injil yang hanya terdiri dari 4 poin (1Kor 15:3-5), yaitu: 1) Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci; 2) Kristus telah dikuburkan; 3) Kristus telah bangkit pada hari ke-3 sesuai dengan Kitab Suci (Maz 16:10); 4) Ia telah menampakkan Diri kepada murud-murid-Nya. Keempat poin Injil ini begitu sederhana/kecil. Namun ia harus kita kabarkan kepada orang-orang yang belum percaya. Karena setelah Injil diberitakan, maka ia akan sama seperti satu biji sesawi yang walaupun sangat kecil tapi tumbuh menjadi pohon/sayur yang besar (sesawi dalam bahasa hakkanya ”Sayur Besar”), sehingga dapat dijadikan tempat berlindung dan berteduh dimana bangsa-bangsa akan bernaung di bawahnya dan burung-burung menjadikannya tempat bersarang. Jadi, jika Injil yang begitu kecil dan sederhana itu kita beritakan, ia akan terus bertumbuh dan berguna untuk orang lain. Kita harus memberitakan Injil mulai dari Yerusalem (rumah kita sendiri), Yudea (tetangga kita), Samaria bahkan sampai ke ujung bumi (orang-orang yang asing untuk kita), Kis 1:8)). Tuhan berjanji kalau kita percaya kepada-Nya dan memberitakan Injil-Nya, maka seisi rumah kita akan memperoleh keselamatan (Kis 16:31). Dan karena Injil itu diberitakan kepada semua bangsa di segala tempat dan segala abad maka ia pun tumbuh semakin besar (Mat 28:19-20). Bukan hanya dari kata-kata saja kita dapat memberitakan Injil, tetapi juga dari tingkah laku kita. Orang percaya dapat menjadi saksi yang baik di lingkungannya sehingga orang lain dapat manjadi percaya juga. Karya-karya yang kita hasilkan di bidang kita masing-masing juga dapat menjadi contoh yang baik sehingga mereka yang melihat dapat mengetahui bahwa Tuhan yang kita sembah adalah benar-benar Tuhan yang besar yang menciptakan bumi dan seluruh isinya dan senantiasa menyertai orang-orang yang berpegang teguh pada firman-Nya. Sebagai contoh, apabila kita adalah seorang pebisnis, jalanilah bisnis kita dengan cara yang Alkitabiah. Jangan hanya mencari keuntungan semata. Apabila kita menjadi pelaku hukum, jadilah pelaku hukum yang Alkitabiah, yang benar-benar taat hukum Tuhan dan hukum-hukum yang berlaku. Dari segi budaya kita dapat menunjukkan bahwa orang percaya memiliki moral yang tinggi dan memiliki hidup yang bersosial ataupun berpolitik yang Alkitabiah seperti Yusuf dan Daniel yang tidak satu dosa/kesalahan mereka dicatat di Alkitab, sehingga kita dapat menjadi keluarga Kristus yang saling menguduskan satu sama lain (1Kor 7:14).

 


Injil yang kita beritakan tersebut bertujuan untuk membangun kerajaan Allah. Perbandingan kerajaan Allah dengan kerajaan dunia: 1) Kerajaan Allah kekal, kerajaan di dunia sementara; 2) Kerajaan Allah dimulai dari kecil seperti biji sesawi, kerajaan dunia tampak besar, padalah sangat kecil jika dibandingkan dengan kerajaan Allah; 3) Kerajaan Allah adalah kerajaan yang semakin hari semakin besar, kerajaan dunia semakin hari semakin kecil dan akan binasa pada akhirnya; 4) Kerajaan Allah di bangun atas dasar iman, pengharapan dan kasih, kerajaan dunia dibangun dengan landasan nafsu untuk berkuasa; 5) Kerajaan Allah dipimpin oleh Yesus sang Raja damai, kerajaan dunia memiliki banyak raja-raja yang kejam dalam pemerintahannya; 6) Kerajaan Allah dimulai dari Injil yang dirintis oleh gereja, seperti batu yang merobohkan patung raksasa Nebukadnesar (Dan 2:34), kerajaan dunia akan dihancurkan oleh Injil yang kecil; 7) Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah harus bertobat (Mat 3:2), sedangkan untuk memperoleh kerajaan di dunia harus ditempuh dengan memenangkan peperangan ataupun melalui pemilihan umum; 8) Alkitab menjadi dasar atau landasan gereja/kerajaan Allah, kerajaan dunia dilandaskan dengan janji-janji yang belum tentu terbukti.

 


 

Wakil dari kerajaan Allah adalah Gereja-Nya. Gereja berdiri karena Yesus telah bangkit dan naik ke surga ± 2000 tahun yang lalu, maka Injilpun telah ditanam selama itu juga, dan hingga saat ini tetap terus bertumbuh menjadi besar karena telah diberitakan sampai ke seluruh penjuru dunia. Yesus akan datang kembali dan akan bertahta sebagai raja atas dunia ini yang adalah milik-Nya. Sebelum Yesus datang, kita pengikut-pengikut-Nya banyak yang akan mengalami penganiayaan. Akan tetapi pada saat Yesus datang kembali Ia akan menjadi hakim yang akan mengadili seluruh dunia. Gereja dan orang percaya adalah wakil kerajaan Allah. Di dalam Wahyu 20 Tuhan berjanji bahwa orang percaya akan bersama-sama bertahta di kerajaan-Nya. Sekarang ini Yesus menjadi Juruselamat kita, tetapi pada saat Ia datang kembali, Ia akan menjadi Raja Damai (Yes 65) karena saat itu tidak akan ada lagi perang bahkan sarigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput (Yes 65:25). Saat ini kita sedang menjadi pelayan,yang melayani Yesus dalam pekerjaan-Nya. Semua pelayanan yang kita lakukan ini akan Tuhan perhitungkan. Saat Ia kembali, kita yang ”pelayan” akan menjadi ”pemimpin” yang memerintah bersama-sama Dia. Jadi, kita harus belajar melayani, sehingga pada saat Yesus datang kembali kita mempunyai bagian di dalam memimpin bersama-sama dengan Dia. Amin. (Diringkas oleh Indriyanti)

Last Updated on Friday, 16 May 2014 23:59